Aktifitas belajar siswa kurang mampu tertinggal

Aktifitas belajar siswa kurang mampu tertinggal

Dunia Informasi dan BeritaBerita hari ini, Aktifitas belajar siswa kurang mampu tertinggal. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menilai siswa yang tingkat ekonomi menengah ke bawah atau kurang mampu punya berpotensi tertinggal.

“Ketika masuk bersama satu kelas, variasi kemampuan niscaya akan berbeda-beda. Nah yang paling rentan tertinggal anak-anak yang secara sosial ekonomi kekurangan,” ungkap Kepala Badan Penelitian.

aktifitas-belajar-siswa-kurang-mampu-tertinggal
Siswa belajar dirumah

Hal ini, katanya, didapat dari evaluasi terhadap pembelajaran pada sejumlah negara ketika negaranya dalam bahaya sehingga sekolah harus dihentikan. Misalnya di Palestina.

Ia mengatakan ketika belajar di rumah terdapat siswa akan mendapat variasi cara, waktu hingga efektifitas belajar. Semua ini bergantung erat dengan kondisi dan akses yang dimiliki siswa, termasuk akses internet dan teknologi.

Aktifitas belajar siswa kurang mampu tertinggal

Untuk itu Totok menginstruksikan agar semua guru melakukan asesmen di awal tahun ajaran baru. Ini supaya sebelum pembelajaran dimulai, guru bisa mengidentifikasi siswa yang tertinggal.

“Guru harus identifikasi mana anak yang tertinggal. Dan itu yang perlu didapatkan prioritas pertama untuk ditolong,” ujarnya.

Ikuti terus Dunia Informasi dan berita Terkini hanya di Journalindo.net dan jangan lupa bagikan jika anda menyukai artikel ini.

Ketimpangan kemampuan siswa ekonomi rendah, kerap didapati ketika situasi normal. Ia menduga ketimpangan ini bakal makin menjadi di tengah pandemi.

Karena banyaknya kendala akses teknologi yang mengganjal jalannya pembelajaran jarak jauh bagi siswa kurang mampu.

Bentuk asesmennya diserahkan kepada masing-masing guru sesuai karakteristik anak. Jadi asesmen bukan dilakukan pusat seperti ujian nasional. Hasil asesmen digunakan sebagai acuan guru mengajar siswa sesuai kemampuan mereka.

Perlu prioritaskan murid tertinggal pelajaran

Dalam hal ini menurutnya guru tidak bisa diberikan acuan teknis yang kaku terkait cara mengajar setelah hasil asesmen keluar. Artinya guru diberikan kebebasan melakukan mekanisme pembelajaran yang dianggap sesuai dengan siswanya.

“[Misalnya] Kalau siswa kelas empat, tapi dites pelajar kelas tiga dia belum bisa. Ya harus belajar kelas tiga dulu. Guru perlu fokus ke anak-anak yang tertinggal dulu,” jelasnya.

Ia mengatakan ini bisa dilakukan dengan menggabungkan anak kelas empat yang tertinggal dengan siswa kelas tiga terlebih dahulu. Setelah bisa mengejar ketertinggalan, baru siswa dikembalikan ke kelasnya.

Namun ia menekankan ini cuma salah satu contoh. Penerapan teknis pembelajaran tetap ada di tangan guru sebagai pihak yang melihat langsung kemampuan siswa.

Menurutnya hal ini penting diperhatikan dan dipertimbangkan. Karena jika tidak siswa akan terus tertinggal hingga jenjang-jenjang berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Muncul wabah mematikan Bubonic di China

Rab Jul 8 , 2020
Muncul wabah mematikan Bubonic di China […]
muncul-wabah-mematikan-bubonic-di-china